Home » » Tidak Relevannya Istilah Radikalisme Agama

Tidak Relevannya Istilah Radikalisme Agama

Written By Unknown on Sabtu, 14 Maret 2015 | 17.27

MENGENAI isu actual tentang radikalisme agama, tidak sepantasnya isu tersebut hanya disandingkan dengan agama. Sebab akar radikalisme bisa lahir dari bermacam-macam sebab. Dan yang menjadi factor utama penyulut tindakan radikalisme adalah hawa nafsu. Bukan agama. Kemudian hawa nafsu tersebut bisa mendompleng ideology, budaya, bahkan demokrasi pun bisa melahirkan radikalisme. Contoh radikalisme demokrasi adalah benturan dalam penyelenggaraan pemilu dan pilkada. Dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama. 

Contoh lainnya adalah; Radikalisme demokrasi, terjadi pada kasus pemekaran wilayah di Medan yang dengan teriakan hiteris membunuh Ketua DPRD di ruang parlemen. Kasus Sampit, beberapa tahun yang lalu adalah contoh radikalisme etnis. Radikalisme sparatis di Indonesia seperti kerusuhan OPM di Papua, Aceh, juga RMS di Maluku. 

Karenanya, penggunaan isu radikalisme agama sangat tidak adil – apalagi jika hanya menyandingkan dengan salah satu agama – hal ini justru akan berdampak sangat negative terhadap posisi pemerintah di mata masyarakat, khususnya di mata umat agama yang distigmatisasi secara tak langsung. Oleh karenanya isu radikalisme agama sudah sangat tidak relevan dipakai.

Karena dikhawatirkan bukan malah menjadi jalan keluar bagi pemecahan masalah radikalisme di Indonesia.

Dan solusi atau pencegahan masalah radikalisme ini memang harus dimulai dengan pemahaman agama yang benar dan ketaatan mengamalkannya. Sebab salah satu sebab diturunkannya agama adalah sebagai cara/jalan untuk melawan hawa nafsu pada diri manusia.

Melalui pemahaman dan ketaatan terhadap agama pula kita bisa melakukan penguatan kerukunan umat beragama.

Radikalisme yang kerap kita saksikan dilakukan oleh ormas ormas keagamaan juga bukan disebabkan kesalahan mereka menafsirkan ajaran agamanya. Ini bisa jadi karena sebuah sikap penolakan terhadap rasikalisme budaya asing yang bebas tanpa ada penghalang tumbuh subur di lingkungan mereka. Dikarenakan kebijakan pemerintah yang kurang tegas terhadap masuknya budaya asing yang negative menyebabkan terjadinya perlawanan di masyarakat.

Contohnya adalah masih menjamur dan bebasnya penjualan minuman keras yang secara budaya sangat berlawanan dengan Pancasila dan agama di lokasi lokasi umum. Dan sebagaimana kita tau bahwa tindakan radikalisme seseorang juga bisa dipengaruhi oleh minuman keras. Baik miras legal maupun illegal.

Karena itu penggunaan istilah RADIKALISME AGAMA ditinjau kembali agar tidak melahirkan persepsi negative di kalangan umat beragama. 

Dan peningkatan pendidikan pemahaman dan ketaatan beragama juga harus terus diupayakan karena kita yakin melalui ketaatan beragama bisa berimbas pada kesalehan nasional dan meningkatnya kualitas kerukunan antar umat beragama, juga meredam tindakan radikalisme di masyarakat. 

Oleh M. Sobari (Kader Partai Persatuan Pembangunan Kec. Kebayoran Baru)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : DINAMIKA PERSATUAN
Copyright © 2015. dinamika persatuan - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger