JAKARTA - Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) Prof Nanat Fatah Natsir mengatakan pemerintah sebaiknya
berhati-hati dalam menghadapi konflik internal partai supaya rakyat tidak
kecewa terhadap partai politik.
"Kalau pemerintah
mengintervensi konflik internal partai, rakyat bisa kecewa bahkan frustasi
terhadap partai politik. Akibatnya terjadi ketidakpercayaan rakyat kepada semua
partai politik," kata Nanat Fatah Natsir melalui pesan singkat yang
diterima di Jakarta, Jumat (13/3).
Mantan rektor UIN Bandung itu
menilai pemerintah terlalu mengintervensi konflik partai sebagaimana yang
terjadi pada Partai Golkar dan PPP. Hal itu, kata Nanat, tak ubahnya seperti
masa Orde Baru berkuasa.
Bila pemerintah mengintervensi
partai politik, Nanat khawatir dalam jangka panjang akan membahayakan kehidupan
demokrasi yang sudah bangsa Indonesia rintis setelah reformasi. Menurut Nanat,
apabila demokrasi telah rusak dan ketidakpercayaan publik kepada partai politik
meningkat, rakyat bisa alergi dan enggan masuk ke dalam partai politik.
"Pemerintah jangan
mengintervensi partai politik. Apalagi, demokrasi kita sudah mendapat pengakuan
dan pujian dari dunia internasional. Banyak pemimpin dan tokoh dunia yang
memuji demokrasi di Indonesia," tuturnya.
Menyikapi keputusan Mahkamah Partai
Golkar terhadap dualisme kepemimpinan di partai berlambang pohon beringin itu,
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia telah mengirimkan surat kepada kubu
Agung Laksono untuk melengkapi data kepengurusan partai.
Sebelumnya, dualisme kepemimpinan
juga terjadi di PPP yang memunculkan kubu Djan Faridz dan Romahurmuziy.

0 komentar:
Posting Komentar