”Jika (Kami) menghendaki untuk menghancurkan
suatu bangsa, maka Kami jadikan orang-orang bourjuis diantara mereka sebagai
pemimpin , mereka akan berbuat jahat, sehingga tibalah saat kehancurannya, dan
Kami hancurkan bangsa tersebut dengan sehancur-hancurnya ” (QS. Al
Isra’ : 16)
Kata ” Fasq ” dalam ayat itu
bermakna: keluar. Artinya, para pemimpin bangsa itu telah keluar dari
ajaran-ajaran Islam dan tidak berkhlak mulia lagi.
Berkata Ibnu Atsir, seorang pakar Sejarah Islam: “Bagi Allah sangatlah mudah untuk memenangkan Islam dan kaum muslimin, akan tetapi karena para pemimpin Islam tidak ada lagi yang mempunyai nyali untuk berjihad dan memperjuangkan agama ini, sebaliknya masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan kesenangan dan kemewahan dunia, dan selalu berbuat zalim terhadap rakyatnya, (maka kekalahan niscaya akan menimpa mereka ) dan keadaan seperti ini, lebih saya takuti dari pada serbuah musuh “
Berkata Ibnu Atsir, seorang pakar Sejarah Islam: “Bagi Allah sangatlah mudah untuk memenangkan Islam dan kaum muslimin, akan tetapi karena para pemimpin Islam tidak ada lagi yang mempunyai nyali untuk berjihad dan memperjuangkan agama ini, sebaliknya masing-masing dari mereka hanya sibuk dengan kesenangan dan kemewahan dunia, dan selalu berbuat zalim terhadap rakyatnya, (maka kekalahan niscaya akan menimpa mereka ) dan keadaan seperti ini, lebih saya takuti dari pada serbuah musuh “
Sangatlah tepat apa yang dinyatakan Ahmad
Syauki bahwa: “Sungguh, suatu bangsa akan selalu eksis selama mereka
mempunyai akhlak. Jika akhlak sudah hilang, maka bangsa tersebut akan tumbang
…”
Indonesia – sebuah bangsa yang besar – yang
terpuruk menjadi bangsa lemah dengan krisis multidimensinya perlu melakukan
renungan dan introspeksi: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan
(dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang
kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari
nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan
dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat . Dan sesungguhnya
telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tetapi mereka
mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah
orang-orang yang zalim”. ( QS An Nahl : 112-113 ).
Pada ayat tersebut Allah memberikan perumpamaan
tentang sebuah negara yang aman, sentosa, subur tanahnya, berlimpah kekayaan
alamnya. Tapi, karena mereka kafir terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah
menimpakan kepada mereka krisis multidimensi, termasuk kelaparan dan ketakutan.
Mereka mendustakan para rasul dan berbuat zalim.
Ironisnya, saat negara mengalami guncangan
hebat, justru ada sebagian dari kaum intelektual mengajak masyarakat untuk
meninggalkan agama dan memisahkannya dari percaturan politik kenegaraan. ”Maka
mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri
ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi
keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu
mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah
diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan
untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah
diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka
ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS Al An’am : 43-44)
Pilih Pemimpin
Seandainya suatu bangsa bertaqwa dan beriman, pasti Allah akan mengucurkan berkah dari langit dan bumi. ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ” ( QS Al A’raf : 96 )
Seandainya suatu bangsa bertaqwa dan beriman, pasti Allah akan mengucurkan berkah dari langit dan bumi. ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ” ( QS Al A’raf : 96 )
Abu Bakar As-Siddiq r.a. pernah mengirim pesan
kepada tentaranya di Perang Yarmuk: ”Hendaknya kalian bersatu padu,
dan ketika menghadapi musuh hendaknya kalian telah menegakkan ajaran-ajaran
Allah, karena Allah akan menolong siapa yang mau menegakkan agama-Nya,
sebaliknya Allah akan meninggalkan siapa yang mengingkari-Nya. Sesungguhnya
kalian tidak-lah kalah karena jumlah yang sedikit, tetapi kalian kalah, ketika
kalian berbuat dosa, maka hindarilah dosa-dosa tersebut “
Agar bangsa ini diberkahi Allah, maka akhlak
dalam bernegara perlu ditegakkan. Al-Quran memberikan sejumlah panduan: “Berkata
Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah
orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan ( QS Yusuf : 55).
Ayat ini memberikan pesan bahwa seorang muslim
tidaklah sepantasnya untuk meminta kekuasaan, kecuali jika memenuhi — paling
tidak — dua kriteria, yaitu “amanah” dan “capable” (penguasaan
dan kecakapan terhadap sesuatu pekerjaan). Karena itu, Rasulullah saw
menasehati Abu Dzar r.a. agar tidak mencalonkan diri menjadi gubernur, karena
jabatan tersebut merupakan amanah dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat
jika tidak mampu melaksanakannya.
Kriteria pemimpin itu dijelaskan juga dalam
al-Quran: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah
ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang
paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat
lagi dapat dipercaya (QS Al Qashas : 26)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa pemimpin pada
hakikatnya adalah seorang pekerja dan pegawai yang dibayar oleh rakyat untuk
melaksanakan tugas dan apa-apa yang diamanatkan kepadanya. Dan sebaik-baik
pegawai adalah yang mempunyai sifat kuat pada bidangnya dan mampu menjalankan
amanah. Ini dikuatkan dengan Firman Allah tentang pengangkatan Thalut sebagai
Raja Bani Israel: “…Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih
rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa…”
(QS Al Baqarah : 247)
Memilih pemimpin negara perlu hati-hati
berdasarkan kriteria yang ideal sesuai panduan Islam. Tentu saja, faktor iman
dan taqwa menjadi keteladanan utama. Jangan memilih pemimpin secara
sembarangan, hanya karena faktor-faktor kekerabatan atau fanatisme kelompok,
sehingga kualitas diabaikan.
Dalam Kitab as-Siyasah Syar’iyyah,
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengutip hadits Rasulullah SAW yang memperingatkan
kaum Muslimin tentang masalah kepemimpinan: “Siapa yang mengangkat
seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia
mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang
lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah
berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”(HR Al-Hakim).
Jadi, jika ingin bangsa kita mendapat kucuran
berkah dari langit dan bumi, sepatutnya tidak memilih pemimpin yang tidak punya
komitmen menegakkan keimanan dan ketaqwaan. Wallahu a’lam bish-shawab. (***)
Oleh:
Dr. Ahmad Zein An-Najah(Ketua Majlis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia)

0 komentar:
Posting Komentar