Metode Qur‘ani Solusi Untuk Demoralisasi Remaja
Written By Unknown on Kamis, 12 Maret 2015 | 21.40
Akhir-akhir ini, dunia pendidikan dihebohkan oleh beberapa kasus moral. Baik antar sesama pendidik, pendidik dengan peserta didik, maupun sesama peserta didik itu sendiri. Berdasarkan asumsi, Ada banyak hal yang ikut melatarbelakangi terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Mulai dari penyalahgunaan teknologi informasi, dengan mengakses video-video pelanggaran moral seperti kekerasan dan sebagainya. Penyalahgunaan wewenang seperti pelecehan seksual yang dilakukan oleh guru dan bahkan kepala sekolah, sampai tindak kekerasan yang dilakukan dalam keluarga.
Masalah moralitas di kalangan remaja di Indonesia dewasa ini, khususnya di kalangan siswa dan mahasiswa sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi, bahkan sudah menjadi problema umum yang belum ada jawabannya.
Mengapa para siswa, sejak SLTP, bahkan SD, sudah banyak yang mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan berbahaya lainnya?. Mengapa para siswa tampak mudah marah dan sangat agresif, sehingga gampang tersinggung dan dengan mudahnya terjadi tawuran di mana-mana ?. Mengapa para siswa begitu bebas bergaul dengan lawan jenis tanpa risih dan rasa malu?. Dan mengapa para siswa sekarang ini sepertinya kurang, malah tidak hormat pada orang dewasa, bahkan terhadap guru dan orang tuanya sendiri sekalipun?.
Pertanyaan-pertanyaan di atas memicu berbagai spekulasi dan tentunya perlu diuji kebenarannya. Misalnya, apakah telah terjadi “mal-edukasi” baik di sekolah ataupun di lingkungan keluarga?. Atau, malah memang sekolah dan keluarga dewasa ini tidak melaksanakan fungsi edukatif, yang terjadi hanyalah “transfer of knowledge”?. Atau, malah lebih jauh lagi, baik sekolah ataupun keluarga dewasa ini, apakah memang “abai” terhadap pendidikan?.
Ada juga yang mempertanyakan di luar lingkup pendidikan, yang seolah-olah mengasumsikan bahwa telah terjadi pendidikan (yang benar), tapi ada sistem lain di luar pendidikan yang mengganggunya. Misalnya pertanyaan berikut: Apakah nilai dan norma pergaulan para siswa sekarang ini sudah berubah, sehingga segala aturan (negara, masyarakat, keluarga, dan bahkan agama) yang dirasakan menghambat “kebebasan” mereka, diabaikan begitu saja?.
Pertanyaan di atas sah-sah saja selama ada landasan dan dasar argumentasi teoritik ataupun empiriknya. Dari segi pendidikan ada satu persoalan yang patut dipertanyakan, yaitu apakah para guru telah melaksanakan pendidikan dengan benar?. Kriteria “benar” dalam pertanyaan ini dapat kita telusuri dari teori-teori pendidikan. Teori pendidikan, misalnya menyebutkan bahwa guru hendaknya menjadi teladan bagi para siswa dan masyarakatnya.
Pertanyaan kemudian muncul, Apakah para guru sekarang ini sudah dapat menjadi suri-tauladan?, pertanyaan ini patut diajukan sehubungan dalam pemberitaan di media massa bahwa akhir-akhir ini disebutkan adanya sejumlah kasus pelanggaran moral menimpa para guru. Tentu saja peristiwa-peristiwa ini tidak menggambarkan keseluruhan guru, namun kejadian-kejadian serupa sebenarnya ada di mana-mana. Dan untuk menjadikan guru sebagai suri tauladan memang bukan perkara yang mudah, karena akan menyangkut sistem yang lebih luas mulai dari seleksi mahasiswa keguruan, pendidikan keguruan, seleksi guru, hingga pendidikan yang bersifat in-service bagi para guru. Tapi ada teori pendidikan lain yang justru dapat dilakukan oleh semua guru, yaitu bahwa pendidikan itu perlu dilakukan dengan menggunakan “metode-metode” pendidikan yang tepat.
Dunia Islam sebenarnya memiliki sejumlah metode pendidikan yang sudah teruji keampuhannya. Guru-guru kita tampaknya, jangankan menerapkan teori-teori yang dimaksud, malah mengetahuinya saja jangan-jangan belum pernah. Seperti kita ketahui, guru-guru di sekolah masih sangat dominan menggunakan metode kuliah (ceramah) dan tanya jawab. Tentu saja kita tidak bermaksud menyalahkan metode konvensional ini. Hanya saja, metode-metode pendidikan unggulan, dalam hal ini metode-metode Qur’ani, kiranya perlu diketahui dan digunakan dalam pembelajaran di sekolah ataupun di perguruan tingi.
Al-Quran bagaikan samudera yang amat luas, yang tidak akan pernah kering. Semakin dalam kita menyelaminya, semakin banyak mutiara yang kita peroleh. Itulah salah satu ciri kemukjizatan al-Quran. Banyak Orang Barat yang mempelajari Al-Quran sebagai objek penelitian atau hanya sebagai ilmu pengetahuan saja, namun tidak dapat disangkal, banyak di antara mereka justru tertarik dan masuk Islam karena telah banyak membaca dan mempelajari al-Quran.
Dalam kajian ilmiah, al-Qur’an bukan hanya sebagai Kitab Suci bagi umat Islam, melainkan Kitab Ilmu Pengetahuan yang dapat dikaji dan diterapkan kebenarannya bagi kemaslahatan umat manusia secara keseluruhan. Para pakar dari berbagai agama telah banyak yang mencoba menelaah sisi-sisi ilmiah dari al-Qur’an. Dan terbukti, banyak di antara mereka yang menemukannya. Sebagai contoh, Maurice Bucaille (Prancis) menemukan sejumlah segi ilmiah al-Qur’an di bidang kedokteran. Toshihiko Izutsu (Jepang) menemukan etik-etik religius Qur’ani yang memang bersifat universal. Dan Anne Maria Schimmel (Jerman) menemukan kebenaran mistik-mistik Islam yang bersifat universal. Para pakar Pendidikan Islam, sejak Rasulullah Saw. hingga para ulama pewaris Nabi di masa pertengahan, telah menjalankan pendidikan dengan mengacu pada petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Generasi teladan pun memang tercipta, berkat keteladanan para pendidik dan ketepatan metode pendidikan.
Abdurrahman An-Nahlawi, ulama terkemuka dan pakar pendidikan dari Mesir, menyusun sebuah karya monumental tentang metode-metode pendidikan Qur’ani. Disebutkannya, bahwa al-Qur’an adalah kitab petunjuk bagi kehidupan, termasuk petunjuk bagi pengembangan dalam dunia pendidikan. Mengapa para pendidik pada generasi terdahulu cukup berhasil membimbing, mengarahkan dan menanamkan nilai moral dalam kehidupan para pelajar ?, dijawab oleh An-Nahlawi, karena mereka menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani. An-Nahlawi mengajak kita, para pendidik, untuk menengok kembali dan menggunakan metode-metode pendidikan Qur’ani yang cenderung ditinggalkan.
An-Nahlawi mengungkapkan beberapa Metode Pendidikan Qur’ani, yang masing-masing memiliki keunggulan.
1. Metode Targhib-Tarhib (Reward and Punishment)
Targhib ialah janji terhadap kesenangan, kenikmatan akhirat yang disertai bujukan. Sementara tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan. Keduanya bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah. Akan tetapi, penekanannya lebih kepada targhib agar melakukan kebaikan, sedangkan tarhib agar menjauhi kejahatan. Metode ini didasarkan atas fitrah (sifat kejiwaan) manusia, yaitu sifat keinginan kepada kesenangan, keselamatan, dan tidak menginginkan kepedihan dan kesengsaraan.
Menurut sistem pendidikan Islam, pelajar harus diberi motivasi sedemikian rupa dengan ganjaran atau pahala. Guru-guru memberi ganjaran apapun bentuknya untuk mengarahkan belajar murid-muridnya secara efektif. Sebaliknya jika penggunaan ganjaran tidak memberikan pengaruh positif pada peserta didik dan masih saja melakukan pelanggaran-pelanggaran, disinilah nampaknya hukuman sudah harus diterapkan untuk memberi petunjuk tingkah laku manusia. Karena pengajaran merupakan aktifitas kependidikan, maka pendidik atau guru harus memberi yang terbaik untuk memotivasi setiap anak didiknya dengan memilih metode yang berguna. Pendidik boleh saja mempergunakan ganjaran dan hukuman sebagai kekuatan-kekuatan yang member motivasi.
Metode Targhib-Tarhib, sangat tepat untuk menanamkan nilai kesucian diri dan menghindari pergaulan bebas, menjaga makanan-minuman yang halal serta menghindari yang haram dan subhat, dan persoalan-persoalan lain yang serupa. Metode ini akan membuat para siswa sangat takut melakukan perbuatan-perbuatan yang haram dan yang subhat, dan sebaliknya akan sangat senang melakukan perbuatan-perbuatan yang justru dianjurkan. Para siswa yang dididik dengan model targhib-tarhib ini akan sangat takut mengkonsumsi segala makanan-minuman yang haram, seperti narkoba, dan sebaliknya hanya akan memilih makanan-minuman yang halal; mereka pun akan sangat takut mendekati perzinaan, dan sebaliknya mereka akan menjaga kesucian dirinya; dan sebagainya.
2. Metode Hiwar, metode ini sangat tepat untuk menanamkan nilai-nilai akhlaqi, seperti penghormatan terhadap orangtua dan guru, membangkitkan motivasi belajar, dan menanamkan ketaatan beribadah.
Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih mengenai suatu topik, dan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam setiap hiwar, jalan dialog harus disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan-tujuan itu tidak selalu langsung kepada pembinaan rasa, didikan rasa yang membentuk sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan sikap itu.
3. Metode Qishah Qur’ani, sangat tepat untuk menanamkan nilai kebanggaan beragama dan keyakinan yang penuh terhadap kebenaran Al-Qur’an.
4. Metode Amtsal (Perumpamaan)
Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran dalam penyampaian pesan menggunakan perumpamaan-perumpamaan. Adakalanya Tuhan mengajari umat manusia dengan membuat perumpamaan. Cara seperti itu dapat juga digunakan oleh guru dalam mengajar. Pengungkapannya tentu saja sama dengan metode kisah, yaitu dengan berceramah atau membaca teks.
Metode ini akan membantu peserta didik memahami konsep abstrak, di samping juga dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut. Dan memberikan motivasi kepada pendengarnya untuk berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan. Yang jelas, hal ini amat penting dalam pendidikan Islam.
5. Metode Ibrah-Mauizhah (Pelajaran-Nasehat)
Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari sesuatu yang disaksikan dan yang dihadapi dengan menggunakan nalar, yang menyebabkan hati mengakuinya. Adapun mau‘idzah ialah nasihat yang lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.
Pendidikan Islam memberikan perhatian khusus kepada metode ibrah agar pelajar dapat mengambilnya dari kisah-kisah dalam al-Quran, sebab kisah-kisah itu bukan sekedar sejarah, melainkan sengaja diceritakan Tuhan karena ada pelajaran (ibrah) yang penting di dalamnya. Pendidik dalam pendidikan Islam harus memanfaatkan metode ini.
Mau‘izah berarti tadzkir (peringatan). Yang memberi nasihat hendaknya berulang kali mengingatkan agar nasihat itu meninggalkan kesan sehingga orang yang dinasihati tergerak untuk mengikuti nasihat itu.
6. Model Uswah Hasanah, sangat tepat bagi penanaman nilai-nilai keteladanan guru pada murid di berbagai jenjang pendidikan, terutama dalam membina akhlak.
Keteladanan merupakan upaya kongkret dalam menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik. Karena secara psikologis anak memang senang meniru, tidak saja yang baik, yang jelekpun ditirunya. Sifat peserta didik itu diakui dalam Islam. Umat meneladani nabi, nabi meneladani al-Quran. Aisyah pernah berkata bahwa akhlak Rasulullah saw. itu adalah al-Quran. Pribadi rasul itu adalah interpretasi al-Quran secara nyata.
Metode-metode pembelajaran Qurani tersebut penting diaplikasikan dalam rangka pembelajaran terhadap peserta didik. Tidak terbatas pada Pendidikan Agama Islam saja, tetapi juga pendidikan umum lainnya yang diintergrasikan kepada ajaran al-Quran al-Karim. Di sini anak akan diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Persoalan bagaimana menanamkan rasa iman, rasa cinta kepada Allah, rasa nikmat beribadah, rasa hormat kepada orang tua, rasa ingin senantiasa berada pada jalan yang benar dan sebagainya, agaknya sulit ditempuh dengan cara pendekatan empiris atau logis. Dan metode-metode tersebut, semuanya bertujuan lebih dari sekedar pembangunan karakter (character building) yang akhir-akhir ini marak dikampanyekan dalam dunia pendidikan Indonesia, tapi juga upaya untuk menjadi manusia seutuhnya (Insan Kamil). Semoga !!!.
KAMARUL ZAMAN, MA
(Guru MTSN Durian Tarung Padang)
Label:
opini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar