JAKARTA - Maraknya pemberitaan tentang Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) diharapkan tidak menyinggung umat beragama di Indonesia. Pasalnya, ada sejumlah media yang mengilustrasikan bahwa gerakan radikal itu bagian dari Islam.
Faktanya, ISIS murni sebuah gerakan politik yang menggunakan terminologi dan simbol Islam dalam memperluas kekuasaan dan jaringannya.
"Tadi ada beberapa orang yang telepon saya. Mereka sama sekali keberatan jika ISIS diidentikkan dengan Islam. Karena itu, mereka meminta agar ilustrasi pemberitaan tentang ISIS tidak dikaitkan dengan Islam dan umat Islam Indonesia," ujar Ketua Komisi VIII DPR RI Saleh Daulay dalam keterangan resminya, Rabu (18/3).
Keberatan itu dinilai sangat beralasan mengingat mayoritas umat Islam Indonesia menolak ISIS. PBNU, PP Muhammadiyah dan ormas-ormas besar Islam lainnya telah menyatakan menolak dan secara aktif mengingatkan anggotanya agar tidak terpengaruh. Ini tentu saja bisa direpresentasikan sebagai penolakan resmi umat Islam pada ISIS.
"Semua pihak tentu membutuhkan media. Namun, tentu kearifan para pengelola media juga penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Karena itu, pemberitaan tentang ISIS perlu didudukkan dalam konteks politik, bukan agama," pinta Anggota F-PAN ini.
Walaupun kelihatan sederhana, tetapi legislator asal Dapil Sumut II melihat persoalan pemberitaan ini sangat penting diperhatikan. Apalagi, saat ini berita-berita tentang ISIS mendapatkan porsi yang cukup besar.
"Jangan sampai niat baik media untuk memberikan informasi justru disalahtafsirkan oleh masyarakat," tandasnya.
0 komentar:
Posting Komentar