BICARA memang gampang bro n sis, tapi sering kali kita tidak memikirkan efek dari omongan kita.
Ternyata, menurut penelitian, 80% pemicu kerenggangan suatu hubungan sosial, baik teman maupun keluarga, disebabkan oleh nada suara.
Apalagi sekarang dengan mengetik di sosial media lebih gampang lagi.
Berhubung sekarang sedang mengikuti salah satu program di Daarut Tauhid Jayakarta, Saya jadi teringat analogi Aa Gym, katanya mulut kita ibarat corong teko. Teko hanya akan mengeluarkan isi yang ada.
Kalau di dalamnya air bersih, yang keluar bersih. Sebaliknya, kalau yang di dalam kotor, yang keluar pun kotoran.
Karenanya, lihatlah yang keluar dari lisan seseorang, maka seperti itulah kualitas orang tersebut.
“Al-kalaamu yanfudzu maa laa tanfudzuhu ibaru”, perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum hati—atau istilahnya “nyelekit“, kalau kata orang Sunda.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam…”
(HR Bukhari & Muslim).
Apa yang keluar dari lisan berpotensi menjerumuskan pada kebinasaan, bahkan menentukan derajat seseorang.
Derajat pertama adalah orang berkualitas, bicaranya selalu bermanfaat, sarat dengan hikmah, ilmu, solusi, atau zikir.
Kedua, derajat orang yang biasa-biasa aja sih, cirinya mudah mengomentari apa pun yang dilihat atau didengarnya, walau tidak ada manfaatnya.
Ketiga orang agak rendahan, ia mudah mencela, mengeluh, dan selalu memandang dari sisi negatif.
Sedangkan keempat, orang yang agak dangkal. Ia selalu menceritakan kelebihannya dan ingin terus dihargai.
Salah satu tips untuk menghindari hal ini adalah Rajinlah beristighfar. Karena mungkin tanpa sadar kita masih saja mengeluarkan ‘bunyi’ yang tak bermanfaat.Semoga Allah melindungi kita semua.
0 komentar:
Posting Komentar